MAKALAH SEJARAH EKONOMI PERTANIAN INDONESIA
Puji dan syukur kami panjatkan
kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena terselesainya tugas makalah tentang “Ekonomi
Pertanian yang mengajarkan Kita
betapa pentingnya Pertanian dalam perekonomian indonesia dan Petani sebagai
pahlawan sepanjang hajat hidup manusia.
Pada kesempatan ini penulis juga
mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu menyusun
makalah ini. Namun demikian kami menyadari
bahwa, penulisan makalah ini jauh
dari sempurna, untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan sebagai bahan
masukan dan penyempurnaan penulisan makalah dimasa mendatang. Mohon maaf
bila ada kekeliruan, Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Ciamis, Maret 2016
Penyusun
PENDAHULUAN
Sebagai negara agraris kita sebagai
bangsa Indonesia harus bersyukur dengan kekayaan alam kita yang sangat subur
dan berlimpa seperti ada ungkapan yang mengatakan “Tongkat dan kayu pun jadi tanaman” dan ungkapan itu memang cocok
untuk indonesia. Sektor
pertanian nampaknya masih menjadi primadona perekonomian di Indonesia, meskipun
telah terjadi transformasi struktur ekonomi, dimana perekonomian negara lebih
ditopang pada sektor industri dan jasa. Selain dibutuhkan sebagai penyedia
pangan nasional, sektor pertanian juga menyerap sebagian besar tenaga kerja Hingga saat ini sebagian besar
masyarakat masih menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dengan tingkat
produktivitas dan pendapatan usaha yang relatif rendah, sehingga kemiskinan,
pengangguran dan rawan pangan banyak terdapat di pedesaan. Kondisi ini
mengindikasikan bahwa upaya pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan rawan
pangan harus dilakukan dengan membangun pertanian dan pedesaan. Adalah
merupakan tantangan ke depan untuk mencapai komitmen global pada tahun 2015
sebagaimana yang dicanangkan dalam Millenium Development Goals (MDG’s) melalui
pembangunan pertanian dengan segala karakteristik dan sfesifikasi masalahnya
yang tersebar merata hampir di seluruh wilayah pedesaan.
Peluang lain yang dimiliki Indonesia adalah permintaan yang
besar dalam negeri yakni jumlah penduduk sekitar 200 juta orang. Kebangkitan
perekonomian nasional akan memacu permintaan akan komoditas pertaniaan.
Kebangkitan sektor riil di dalam negeri akan meningkatkan permintaan bahan baku
hasil pertanian bagi agroindustri di dalam negeri.
1. Apa
kondisi umum pertanian dalam perekonomian Indonesia ?
2. Apa
peranan pertanian dalam perekonomian Indonesia ?
1. Untuk
mengetahuan kondisi umum pertanian dalam perekonomian Indonesia.
2. Untuk
mengetahui peranan pertanian dalam perekonomian Indonesia.
PEMBAHASAN
Indonesia adalah negara agraris yakni
negara yang sebagai besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari pertanian.
Indonesia juga adalah negara ke 4 yang mempunyai penduduk terbanyak di Dunia
setelah Cina, India dan Amerika serikat. Itu pun akan selalu berkelanjutan
dikarenakan penduduk Indonesia selalu bertambah. Kita berharap dengan penduduk
Indonesia yang banyak dapat mendukung perekonomian dengan memaksimalkan Sumber
daya manusia (Kesadaran individu tersebut untuk mau berkembang dan maju).
Indonesia menghadapi beberapa kelemahan internal antara lain
sumberdaya kualitas manusia rendah,
penguasaan ilmu dan pengetahuan yang masih kurang, kesuburan lahan pertanian
yang semakin menurun, manajemen penggunaan air yang lemah, sistem kelembagaaan
petani yang rapuh, sistem agribisnis belum kompak dan belum terintegrasi, modal
pertanian sangat kurang dan kalau tersedia sangat mahal, industri pembenihan
untuk berbagai komoditas belum berkembang, sistem pemasaran tidak menjamin
insentif yang layak bagi petani, manajemen pembangunan pertanian antara pusat
dan daerah belum terkoordinasi dan prioritas kebijakan nasional yang belum
berpihak pada pertanian. Penyebab inefisiensi agribisnis adalah lahan
usaha sempit, terlalu banyak orang bekerja dalam jasa pemasaran sehingga
biaya pemasaran tinggi, biaya modal yang dihadapi petani tinggi, manajemen petani
berdasarkan pengalaman sendiri yang tidak berkembang, penggunaan benih yang
tidak produktif, sikap nasionalisme bagi penyelenggara negara masih tertutup
oleh sikap daerahisme, biaya penelitian yang sangat rendah sehingga penemuan
teknologi tidak pernah tuntas, para petani enggan bekerjasama sehingga
kelembagaan tidak berkembang, organisasi pemerintahan belum terpadu dan sering
tidak efektif bagi pembangunan pertanian.
Masalah yang dihadapi dari sisi eksternal adalah ancaman dari luar negeri atau globalisasi
dalam berbagai bentuk seperti perdagangan bebas dunia dan perdagangan gelap
seperti penyeludupan dan impor barang legal dengan jenis barang yang
dipalsukan. Perdagangan bebas yang diyakini dapat menciptakan kemakmuran dunia,
ternyata menjadi media untuk menghancurkan yang lemah. Harga dunia yang
dapat berfungsi sebagai media efisiensi penggunaan sumberdaya ternyata dapat
diubah sesuai keinginan negara yang kaya dan kuat melalui subsidi para petani.
Indonesia tidak lagi mungkin menggunakan harga dunia sebagai menara bagi
peningkatan daya saing. Penyelundupan hasil-hasil pertanian dari luar negeri
terus berlangsung sebagai konsekuensi permintaan dalam negeri yang tinggi,
harga dunia yang lebih rendah dan kelemahan aparat dalam menindak
penyeludunpan.
Untuk menghalangi kelemahan-kelemahan ini, Indonesia memang
harus berjuang supaya perdagangan dapat berjalan adil. Perjuangan ini akan
berat mengingat negara-negara maju tidak mundur dari kebijakan pertanian di
daerahnya. Negara-negara maju mempunyai prinsip bahwa hasil pertanian
atau pangan merupakan kebutuhan hayati yang tidak dapat digantikan oleh
produk industri. Produksi pangan merupakan kunci kekuatan sebuah negara oleh
karena itu subsidi pertanian merupakan suatu hal yang layak dan perlu sangat
diprioritaskan berapa besar biayanya.Kebijakan pertanian terutama subsidi pada
petani akan dapat menjamin insentif petani untuk berproduksi dan merubah sistem
pertanian. Jika petani mendapat jaminan subsidi, mereka akan lebih digerakkan
kepada kemajuan. Jika pasar bebas dunia masih berlangsung tidak adil seperti
yang sekarang maka Indonesia melakukan kerjasama secara intensif dengan
berbagai negara lain. Kerjasama ini akan dapat membantu kebuntuan globalisasi
pasar bebas.
Program ini disusun oleh Menteri Urusan Bahan Makanan
I.J.Kasimo. Program ini berupa Rencana Produksi Tiga tahun (1948-1950) mengenai
usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Inti
dari Kasimo Plan adalah untuk meningkatkan kehidupan rakyat dengan menigkatkan
produksi bahan pangan. Rencana Kasimo ini adalah :
- Menanami tanah kosong (tidak
terurus) di Sumatera Timur seluas 281.277 HA
- Melakukan intensifikasi di Jawa
dengan menanam bibit unggul
- Pencegahan penyembelihan
hewan-hewan yang berperan penting bagi produksi pangan.
- Di setiap desa dibentuk
kebun-kebun bibit
- Transmigrasi bagi 20 juta
penduduk Pulau Jawa dipindahkan ke Sumatera dalam jangka waktu 10-15 tahun.
Tujuan diberlakukannya UUPA adalah:
a. Meletakkan dasar-dasar bagi
penyusunan hukum agraria nasional yang akan merupakan alat untuk membawa
kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat tani, dalam rangka
masyarakat yang adil dan makmur;
b. Meletakkan dasar-dasar untuk
mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan;
c. Meletakkan dasar-dasar untuk
memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.
Sayangnya pemerintahan Orde Lama tidak berlangsung lama, kebijakan
distribusi tanah secara adil menurut UU Pokok Agraria atau lebih dikenal dengan
landreform kandas di jaman Orde Baru. Maka, Agrarische Wet yang menjadi dasar
bagi Hak Guna Usaha (HGU) para pemodal dan partikelir untuk memeras tanah dan
petani kecil terus berlangsung.
Kebijakan modernisasi pertanian pada masa Orde baru dikenal
dengan sebutan Revolusi Hijau.
a. Revolusi Hijau merupakan perubahan cara bercocok
tanam dari cara tradisional ke cara modern. Revolusi Hijau (Green Revolution)
merupakan suatu revolusi produksi biji-bijian dari hasil penemuan-penemuan
ilmiah berupa benih unggul baru dari berbagai varietas, gandum, padi, dan
jagung yang mengakibatkan tingginya hasil panen komoditas tersebut.
b. Tujuan Revolusi hijau adalah mengubah petani-petani gaya
lama (peasant) menjadi petani-petani gaya baru (farmers),
memodernisasikan pertanian gaya lama guna memenuhi industrialisasi ekonomi
nasional. Revolusi hijau ditandai dengan semakin berkurangnya
ketergantungan para petani pada cuaca dan alam karena peningkatan peran ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan produksi bahan makanan.
c. Latar belakang munculnya revolusi Hijau
adalah karena munculnya masalah kemiskinan yang disebabkan karena pertumbuhan
jumlah penduduk yang sangat pesat tidak sebanding dengan peningkatan produksi
pangan. Sehingga dilakukan pengontrolan jumlah kelahiran dan meningkatkan usaha
pencarian dan penelitian binit unggul dalam bidang Pertanian. Upaya ini terjadi
didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Thomas Robert Malthus.
d. Upaya yang dilakukan pemerintah
Indonesia untuk
menggalakan revolusi hijau ditempuh dengan cara:
1. Intensifikasi Pertanian
Intensifikasi Pertanian di Indonesia dikenal dengan nama Panca
Usaha Tani yang meliputi :
·
Pemilihan
Bibit Unggul
·
Pengolahan
Tanah yang baik
·
Pemupukan
·
Irigasi
·
Pemberantasan
Hama
2. Ekstensifikasi Pertanian
Ekstensifikasi pertanian, yaitu Memperluas lahan tanah
yang dapat ditanami dengan pembukaan lahan-lahan baru (misal mengubah lahan
tandus menjadi lahan yang dapat ditanami, membuka hutan, dsb).
3. Diversifikasi Pertanian
Usaha penganekaragaman jenis tanaman pada suatu lahan
pertanian melalui sistem tumpang sari. Usaha ini menguntungkan karena dapat
mencegah kegagalan panen pokok, memperluas sumber devisa, mencegah penurunan
pendapatan para petani.
4. Rehabilitasi Pertanian
Merupakan usaha pemulihan produktivitas sumber daya
pertanian yang kritis, yang membahayakan kondisi lingkungan, serta daerah rawan
dengan maksud untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah tersebut.
Usaha pertanian tersebut akan menghasilkan bahan makanan dan sekaligus sebagai
stabilisator lingkungan.
5.
Pelaksanaan
Penerapan Revolusi Hijau:
Pemerintah memberikan penyuluhan dan
bimbingan kepada petani. Kegiatan pemasaran hasil produksi
pertanian berjalan lancar sering perkembangan teknologi dan komunikasi.
Tumbuhan
yang ditanam terspesialisasi atau yang dikenal dengan monokultur, yaitu
menanami lahan dengan satu jenis tumbuhan saja. Pengembangan teknik kultur jaringan
untuk memperoleh bibit unggul yang diharapkan yang tahan terhadap serangan
penyakit dan hanya cocok ditanam di lahan tertentu. Petani menggunakan bibit padi hasil
pengembagan Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI=International Rice
Research Institute) yang bekerjasama dengan pemerintah, bibit padi unggul
tersebut lebih dikenal dengan bibit IR. Pola pertanian berubah dari pola
subsistensi menjadi pola kapital dan komersialisasi.
Negara
membuka investasi melalui pembangunan irigasi modern dan pembagunan industri
pupuk nasional. Pemerintah mendirikan koperasi-koperasi yang dikenal dengan
KUD (Koperasi Unit Desa).
Pemerintah lalu melakukan Pola Umum Pembangunan Jangka
Panjang (25-30 tahun) dilakukan secara periodik lima tahunan yang disebut
Pelita(Pembangunan Lima Tahun). Pelita berlangsung dari Pelita I-Pelita VI.
Pelita
I(1 April 1969 – 31 Maret 1974). Sasaran yang hendak di capai pada masa ini adalah pangan,
sandang, perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan
kesejahteraan rohani. Pelita I lebih menitikberatkan pada sektor pertanian.
Keberhasilan dalam Pelita I yaitu:
- Produksi beras mengalami
kenaikan rata-rata 4% setahun.
- Banyak berdiri industri pupuk,
semen, dan tekstil.
- Perbaikan jalan raya.
- Banyak dibangun pusat-pusat
tenaga listrik.
- Semakin majunya sektor
pendidikan.
Pelita
II(1 April 1974 – 31 Maret 1979)
Sasaran
yang hendak di capai pada masa ini adalah pangan, sandang, perumahan, sarana
dan prasarana, mensejahterakan rakyat, dan memperluas lapangan kerja . Pelita
II berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata penduduk 7% setahun.
Perbaikan dalam hal irigasi. Di bidang industri juga terjadi kenaikna produksi.
Lalu banyak jalan dan jembatan yang di rehabilitasi dan di bangun.
Pelita
III(1 April 1979 – 31 Maret 1984)
Pelita
III lebih menekankan pada Trilogi Pembangunan. Asas-asas pemerataan di tuangkan
dalam berbagai langkah kegiatan pemerataan, seperti pemerataan pembagian kerja,
kesempatasn kerja, memperoleh keadilan, pemenuhan kebutuhan sandang, pangan,
dan perumahan,dll
Pelita
IV(1 April 1984 – 31 Maret 1989)
Pada
Pelita IV lebih dititik beratkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan
dan meningkatkan ondustri yang dapat menghasilkan mesin industri itu sendiri.
Hasil yang dicapai pada Pelita IV antara lain.
Swasembada
Pangan
Pada
tahun 1984 Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton. Hasil-nya
Indonesia berhasil swasembada beras. kesuksesan ini mendapatkan penghargaan
dari FAO(Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada tahun 1985. hal ini
merupakan prestasi besar bagi Indonesia.
Pelita
V(1 April 1989 – 31 Maret 1994)
Pada
Pelita V ini, lebih menitik beratkan pada sektor pertanian dan industri untuk
memantapakan swasembada pangan dan meningkatkan produksi pertanian lainnya
serta menghasilkan barang ekspor.
Pelita
VI (1 April 1994 - 31 Maret 1999)
Pada
masa ini pemerintah lebih menitikberatkan pada sektor bidang ekonomi.
Pembangunan ekonomi ini berkaitan dengan industri dan pertanian serta
pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya.
Pada era reformasi, paradigma pembangunan pertanian
meletakkan petani sebagai subyek, bukan semata-mata sebagai peserta dalam
mencapai tujuan nasional. Karena itu pengembangan kapasitas masyarakat guna
mempercepat upaya memberdayakan ekonomi petani, merupakan inti dari upaya
pembangunan pertanian/pedesaan. Upaya tersebut dilakukan untuk mempersiapkan
masyarakat pertanian menjadi mandiri dan mampu memperbaiki kehidupannya
sendiri. Peran Pemerintah adalah sebagai stimulator dan fasilitator, sehingga kegiatan
sosial ekonomi masyarakat petani dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.
Berdasarkan pada paradigma tersebut maka visi pertanian
memasuki abad 21 adalah pertanian modern, tangguh dan efisien. Untuk mewujudkan
visi pertanian tersebut, misi pembangunan pertanian adalah memberdayakan petani
menuju suatu masyarakat tani yang mandiri, maju, sejahtera dan berkeadilan. Hal ini akan dapat dicapai melalui
pembangunan pertanian dengan strategi . Optimasi pemanfaatan sumber daya
domestik (lahan, air, plasma nutfah, tenaga kerja, modal dan teknologi) . Perluasan spektrum pembangunan
pertanian melalui diversifikasi teknologi, sumber daya, produksi dan konsumsi
Penerapan rekayasa teknologi pertanian spesifik lokasi secara dinamis, dan
Peningkatan efisiensi sistem agribisnis untuk meningkatkan produksi pertanian
dengan kandungan IPTEK dan berdaya saing tinggi, sehingga memberikan
peningkatan kesejahteraan bagi petani dan masyarakat secara berimbang.
Salah satu langkah operasional strategis yang dilakukan
dalam rangka mencapai sasaran tersebut di atas adalah Gerakan Mandiri (Gema)
yang merupakan konsep langkah-langkah operasional pembangunan pertanian, dengan
sasaran untuk meningkatkan keberdayaan dan kemandirian petani dalam
melaksanakan usaha taninya. Mulai TA 1998/1999 telah diluncurkan berbagai Gema
Mandiri termasuk Gema Hortina untuk peningkatan produksi hortikultura. Gerakan
Mandiri Hortikultura Tropika Nusantara menuju ketahanan hortikultura (Gema
Hortina), dilaksanakan untuk mendorong laju peningkatan produksi hortikultura.
Melalui gerakan ini komoditas hortikultura yang dikembangkan adalah sayuran,
buah-buahan, tanaman hias dan tanaman obat unggulan.
Komoditas yang diutamakan adalah yang bernilai ekonomi
tinggi, mempunyai peluang pasar besar dan mempunyai potensi produksi tinggi
serta mempunyai peluang pengembangan teknologi. Adapun upaya yang dilaksanakan
untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya hortikultura unggulan tersebut
meliputi penumbuhan sentra agribisnis hortikultura dan pemantapan sentra
hortikultura yang sudah ada.
Komoditas unggulan yang mendapat prioritas adalah :
- Sayuran : kentang, cabe merah,
kubis, bawang merah, tomat dan jamur
- Buah-buahan : pisang, mangga,
jeruk, nenas dan manggis
- Tanaman hias : anggrek
- Tanaman obat : jahe dan kunyit.
Kegiatan pertanian merupakan mata
pencaharian terbesar penduduk didunia termasuk di Indonesia. Sejarah Indonesia
pun tidak terlepas dari sektor pertanian (menghasilkan bahan baku seperti padi,
jagung, sagu, dll) dan perkebunan (menghasilkan buah-buahan) terutama pada masa
kolonial penjajahan Belanda kegiatan pertanian dan perkebunan menjadi penentu
tingkat social dan perekonomian seseorang. Meskipun kegiatan pertanian hanya
menyumbang rata-rata 4% dari PDB (Produk Domestik Bruto) suatu negara namun
kegiatan pertanian ini menjadi penyedia lapangan pekerjaan terbesar bagi setiap
negara. Berdasarkan data BPS tahun 2002,
bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja sekitar 44,3% bagi penduduk meskipun hanya menyumbang
sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
Kegiatan pertanian ini sangat besar
pengaruhnya dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia sehingga kegiatan
pertanian ini tidak dapat diabaikan dan berpengaruh juga terhadap tumbuh
kembangnya setiap negara. Mengingat negara Indonesia merupakan negara yang
subur akan tanah, kaya akan sumber daya alam, sehingga berpotensi tinggi dalam
mengembangkan usaha pertanian. Sudah seharusnya kita mengolah setiap limpahan
sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin dengan memanfaatkan sektor
pertanian dinegara kita yang turut meningkatkan pula sektor pertanian baik secara langsung maupun tidak
langsung membangkitkan sektor-sektor lainya dalam memajukan bangsa. Perlu kita
ketahui mengapa sektor pertanian
ini perlu dikembangkan dan dimajukan dinegara kita. Disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
Yang artinya negara Indonesia merupakan
wilayah yang terdiri atas beribu-ribu pulau yang amat subur memiliki letak
astronomis 6° LU – 11°LS dan 94°BT – 141°BT menandakan bahwa wilayah Indonesia
merupakan wilayah yang subur dan beriklim tropis. Potensi wilayah yang demikian
sangat baik kaitannya dalam
pengembangan sektor pertanian. Ini menandakan faktor iklim yang sangat
mempengaruhi faktor terbentuk
dan tumbuh suburnya setiap tanaman. Iklim di Indonesia yang cukup dalam memperoleh sinar matahari
sepanjang tahun,
mempengaruhi
tumbuh suburnya setiap tanaman dengan mudah. Potensi yang demikian membuat
wilayah Indonesia mendapat julukan sebagai “Kolam Susu” dimana setiap tangkai
maupun bibit yang ditanam diwilayah Indonesia selalu tumbuh subur dan
menghasilkan uang.
Potensi yang demikianlah yang harusnya
kita perhatikan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Meskipun sektor pertanian kelihatannya mudah dan berpengaruh kecil terhadap PDB
(Produk Domestik Bruto) namun disinilah kekayaan yang berlimpah yang
dianugerahi oleh alam kepada negara kita yang perlu dikembangkan dan diolah demi peningkatan pendapatan
perekonomian negara, serta mampu
berdaya saing dengan negara-negara lain sebagai pengekspor bahan baku alam dan
menjadi pemenuhan kebutuhan bagi setiap masyarakatnya.
Bila ditinjau dari segi letak geografis
wilayah Indonesia berada pada posisi dua samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Dan terletak diantara dua benua yaitu
Benua Asia dan Benua
Australia. Hal ini menandakan
bahwa letak wilayah negara kita berada di sebuah jalur internasional yaitu
sebuah jalur yang strategis dalam menjalankan berbagai sektor yang seharusnya mampu menjadi daya
ikat bagi negara-negara luar terutama dalam bidang pemasaran barang-barang
produksi dalam negeri salah satunya produksi hasil pertanian.
Untuk itu pentingnya bagi kita untuk
mengetahui situs-situs opportunity yang tepat dalam memanfaatkan segala
ketersediaan kesempatan yang didepan mata terutama dalam memasarkan
produk-produk pertanian dari dalam negeri sehingga dapat menimbulkan suatu istilah yang disebut demand
yaitu permintaan barang dari negara luar sebagai hasil pendemonstrasian
jenis maupun kualitas barang yang bermutu baik sehingga dipercaya oleh setiap
negara dalam kegiatan bilateral maupun multilateral yang dimulai dari sektor yang dianggap kecil yaitu pertanian
tetapi memberi dampak serta keuntungan yang besar bagi negara kita.
Bisa dikatakan tidak banyak orang yang
tahu dan paham
bahwa sektor pertanian menaruh keuntungan yang cukup besar pada PDB negara dan
banyak yang beranggapan bahwa sektor pertanian hanya sektor sampingan yang tidak perlu terlalu
diperhatikan. Meskipun hanya memberi 17,3% bagi PDB tiap tahunnya, sektor ini menjadi barang komoditi
yang paling dicari oleh masyarakat karena menjadi kebutuhan primer dalam
pemenuhan kebutuhan pangan yaitu menjadi kebutuhan sehari-hari dan tidak boleh
habis stoknya karena bisa berdampak fatal bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat. Karena bila terjadi suatu kesalahan yang tidak terencana penyediaannya atau
habis didalam negeri sendiri kita
bisa kerepotan untuk mengimpor dari negara luar. Oleh sebab itu sektor
pertanian harus diperhatikan lebih baik karena menjadi faktor primer dalam
pemenuhan kebutuhan dan seharusnya sebagai negara yang terletak diwilayah
tropis kita harus bisa memanfaatkan keadaan alam yang ada dengan meningkatkan
hasil produksi dari sektor pertanian ini karena selain bermanfaat sebagai
pemenuh kebutuhan setiap keluarga bisa menjadi sector yang amat menguntungkan
apabila dibawa kepangsa pasar dan dilihat pada pangsa pasar yang lebih luas.
Bila dilihat dari segi ekonomi sektor pertanian ini mampu menaikan PDB kita dan
membawa keuntungan tentu saja apabila ditingkatkan hasil produksinya dan mencari wilayah
yang dianggap memiliki pangsa pasar yang luas. Tidak perlu melihat secara jauh
atau mencari pangsa pasar kenegara luar. Melihat dari segi kuantitas wilayah
Indonesia yang terdiri dari ±250 juta jiwa saja sudah menjadi target utama pangsa pasar yang
cukup ekonomis dan menguntungkan bagi kita. Apalagi ditambah bila kita mampu
menembus kepasar luar yang membutuhkan barang-barang hasil pertanian negara
kita. Ini merupakan suatu perencaan yang cukup bagus dalam menembus pasar dunia
bahkan bisa meningkatkan pendapatan negara dari sektor pertanian berkali-kali
lipat dari biasanya. Dari pembelajaran inilah kita bisa menentukan setiap
target yang akan ditempuh kedepanya dengan melirik kepada sector yang dianggap
kecil sebenarnya bisa memberi keuntungan yang besar.
Namun bukan semudah membalikan telapak tangan dalam melakukan sutau proses
pencapaian target ini. Di setiap titiknya dibutuhkan suatu perjuangan yang
tidak gampang bisa dikatakan demikian mengapa, karena bila kita melihat
kebelakang kita akan mengetahui seberapa besar kendala-kendala yang menjadi
penghambat dalam memajukan sektor pertanian yang memang membutuhkan kepedulian
dari seluruh pihak. Agar pencapaian akan tujuan tersebut dapat terlaksana.
Peranan petani tidak dapat dilepaskan
dalam kehidupan masyarakat. Mengapa demikian karena petani menjadi pemasok
setiap kebutuhan pangan dari setiap anggota keluarga dalam pemenuhan kebutuhan
pokoknya sehari-hari. Tanpa adanya petani manusia tentu tidak dapat memenuhi
kebutuhannya bahkan
harus mngimpor barang-barang pangan dari luar. Namun dibeberapa negara besar
seperti arab yang sering mengimpor hasil tani kedalam negaranya, kurang
memanfaatkan peranan dari petaninya bukan dikarenakan faktor ketidaksediaan
modal melainkan faktor ketidakmampuann dari segi tanah dan iklim mereka untuk
bercocoktanam, sehingga sektor pertanian kurang berkembang
dinegara timur tersebut.
Untuk wilayah Indonesia profesi sebagai
petani mampu mengurangi angka pengangguran yang cukup besar dimana sektor
pertanian terbuka secara luas asalkan memiliki modal dan pengetahuan yang cukup
dalam pengelolaaan usaha tani
tersebut. Keterkaitan peran para petani dengan masyarakat bisa disamakan sebagai keterkaitan antara
produsen dengan konsumen. Dimana produsen harus selalu menyediakan setiap saat
barang-barang kebutuhan dari konsumennya. Oleh karena itu terdapat saling ketergantungan antara peran petani dengan masyarakat dalam pemenuhan
setiap kebutuhan masyarakat.
Sektor pertanian menjadi salah satu
dari unsur-unsur yang mengisi pertumbuhan perekonomian disetiap negara . Di
negara arab sekalipun meskipun wilayahya lahanya tidak memungkinkan untuk
melakukan kegiatan bercocok tanam namun sector perekonomian menjadi salah satu
unsur pengisi basis pertumbuhan perekonomian dinegaranya misalnya dengan
membudidayakan tanaman kurma yang nilai komoditinya cukup besar dalam
pengeksporan keseluruh negara termasuk ke Indonesia yang ikut mengimpor komoditi pertanaian
dari Arab. Dengan kata lain sektor pertanian meski hanya menyumbang tidak sampai dari ¼
pendapatan negara tetapi menjadi penopang terhadap pendapatan dari setiap
negara terutama di Indonesia yang tiap tahunya mengekspor biji mete, beras, dan
berbagai bahan pokok lainya dalam pangan menjadi pemasukan devisa negara tiap
tahunnya.
Adanya pasar bebas harusnya menjadi
tolak ukur bagi pemasaran produk hasil pertanian di negara kita dengan produk
luar yang artinya kita tidak boleh kalah saing terhadap segala bentuk pola-pola
pemasaran yang datangnya dari luar tetapi lebih meningkatkan semangat dan
kinerja dalam dunia persaingan bisnis, politik, dan berbagai bidang lainya
karena kemajuan zaman yang begitu pesat. Kita tidak boleh semakin melemah namun
harus tetap menjaga eksistensi dengan memanfaatkan modal yang kita miliki
sebaik-bainya dan terencana sehingga memiliki nilai jual dan mampu bersaing
terhadap negara manapun.
PENUTUP
1. Sektor pertanian merupakan bagian
dari sektor riil yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia,
karena sebagai negara agraris seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian.
2. Sektor
pertanian merupakan penopang tertinggi dalam pendapatan negara serta menjadi
mata pencaharian sebagian masyarakat Indonesia mengingat wilayah kita yang kaya
akan lahan, subur, dan iklim mendukung. Menghasilkan produk pertanian yang
berkualitas meruapakn komoditi terbesar Megara Indonesia yang menduduki posisi
teratas dalam BPS terhadap perhitungan PDB di Indonesia tiap tahunnya.
3. Dalam
masalah kepemilikan lahan pemerintah beserta masyarakat harus tururt membela
hak lahan milik petani guna menjaga kelangsungan lingkungan dan pengolaan lahan
untuk kegiatan pertanian.
4. Perlu
pula adanya penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat
guna meningkatkan semangat para petani dalam pengeloaan lahan, penyampaian
informasi tani yang tepat dalam peningkatan hasil pangan, cara-cara
mengkreasikan hasil tani, serta cara-cara penggunaan alat-alat teknologi
canggih guna mendapatkan hasil yang optimal dari kegiatan bertani dengan
efektif dan efisien tanpa memakan waktu lama dan tenaga yang besar serta dengan
modal yang sekecil-kecilnya sesuai dengan prinsip ekonomi.
1.
Sebagai negara agraris dan Mahasiswa pertanian (Agribisnis) mari kita menjaga
dan melestarikan lingkungan kita dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat
umum betapa pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan agar dapat dirasakan
oleh anak cucu, cici, caca kita dikemudian hari.
2. Kami
menyadari masih banyak kekurangan dari makalah kami baik dari segi redaksi kata
maupun penulisannya jadi kami sangat berterimakasih kepada pembaca yang
memberikan kritik, saran dan solusi agar makalah kami dapat diperbaiki.
Bappenas. Kajian Evaluasi
Revitalisasi Pertanian Dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan Petani. Jakarta,
Desember 2012.
Kementerian Pertanian. Laporan Kinerja
Kementerian Pertanian Tahun 2011. Jakarta, Desember 2011.
NN. 2010. Pembangunan Pertanian di Indonesia.
Melalui:
NN. 2011. Pertanian. Melalui:
NN. 2009. Tiga Problem Sektor Pertanian. Melalui:
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=9207&Itemid=822 [2009/02/04]
https://www.google.com/search?q=kondisi+umum+dan+peranan+pertanian+dalam+perekonomian+indonesia&ie=utf-8&oe=utf-8
MAKALAH SEJARAH EKONOMI PERTANIAN INDONESIA
Reviewed by Unknown
on
Friday, November 18, 2016
Rating:
No comments
Post a Comment